English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

LINK PARTNER

ORGANISME PENGGANGGU

STATUS ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN JERUK DAN STRATEGI PENGENDALIANNYA

Oleh : Mizu Istianto


PENDAHULUAN


Jeruk merupakan salah satu komoditas buah yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Usaha tani jeruk memberikan prospek yang baik dalam meningkatkan kesejahteraan petani. Dalam proses usahatani jeruk, sebagaimana tanaman lain, juga terdapat beberapa kendala yang mengancam pencapaian potensi produksi, diantaranya adalah adanya serangan hama dan penyakit. Tanaman jeruk dapat diserang oleh hama dan penyakit mulai dari fase pembibitan sampai tanaman berproduksi (dewasa). Dari sisi fenologi tanaman, hama dan penyakit tersebut menyerang tanaman jeruk mulai fase dorman, tunas (flush), bunga, dan buah. Bahkan organisme pengganggu tanaman tersebut (OPT) dapat menyerang hingga pada simpanan.
Pengendalian terhadap OPT tersebut harus dilakukan untuk menekan kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan. Strategi pengendalian yang tepat perlu dilakukan baik pada pembibitan maupun tanaman dewasa dengan tujuan untuk menekan tingkat serangan OPT. Komponen pengendalian yang diterapkan perlu mempertimbangkan tingkat keamanan terhadap lingkungan dan konsumen semaksimal mungkin. Untuk itu, strategi pengendalian yang diterapkan harus mempertimbangkan (1) Tingkat bahaya/status OPT (2) hubungan fenologi tanaman dengan dinamika serangan OPT, (2) kondisi cuaca (makro dan mikro), (3) komponen teknologi pengendalian yang diramu dalam suatu paket teknologi secara terpadu, dan (4) kondisi SDM dan sosial budaya. Guna mendukung penerapan pengendalian terhadap OPT jeruk tersebut diperlukan beberapa informasi penting, yaitu (1) pengenalan dan identifikasi OPT, (2) biologi, perilaku, dan ekologi OPT, (3) ambang kendali, (4) teknik monitoring, dan (5) teknik pengendalian.

STATUS ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN JERUK

Organisme pengganggu pada tanaman jeruk dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu :
  • Hama, meliputi Diaphorina citri, Aphid (Toxoptera citricidus dan T. aurantii), ulat peliang daun (Phyllocnistis citrella), tungau (Panonychus citri, Tetranychus urticae, Phyllocoptruta oleivera ), Thrips, kutu sisik (Lepidosaphes beckii, Unaspis citri), kutu dompolan (Planococcus citri), penggerek buah (Prays sp, Citripestis sagitiferella), lalat buah, Kepik jeruk berduri (Rhynchocorus paseidoon).
  • Penyakit, meliputi CVPD, Tristeza, kanker (Xanthomonas campestris), kudis (Sphaceloma fawcetti), embun tepung (Oidium sp), busuk akar (Phytophthora sp), beldok (Botryodiplodia theobrome), embun jelaga, Greysa.
  • Vektor, meliputi D. citri (vektor CVPD), aphid (vektor Tristeza)
Permasalahan utama, terkait dengan OPT, pada tanaman jeruk yang menjadi perhatian utama adalah serangan penyakit CVPD yang telah menyebabkan hancurnya daerah-daerah sentra produksi. Selain penyakit CVPD, status OPT diberbagai wilayah pertanaman jeruk bervariasi. Kemungkinan beberapa OPT tertentu menjadi masalah utama di wilayah tertentu tetapi tidak menjadi masalah di wilayah lain. Dengan demikian penetapan status OPT tersebut harus dilakukan secara spesifik lokasi/wilayah dan bisa tidak sama antar wilayah/daerah. Namun berdasarkan pola perkembangan yang ada pada akhir-akhir ini, beberapa OPT yang perlu diwaspadai di seluruh areal pertanaman jeruk adalah serangan penggerek buah, tungau, kutu dompolan, Thrips, lalat buah. Walaupun kadang-kadang populasinya masih belum terlalu tinggi, tapi harus dimonitor secara ketat karena bila serangan mencapai tingkat membahayakan akan sulit dikendalikan. Untuk OPT tertentu perlu diwaspadai pada wilayah/areal tertentu yang memiliki karakter spesifik, sebagai contoh Phythophthora sp di lahan pasang surut atau lahan dengan drainase/aerasi buruk, kutu sisik dan jamur greysa untuk wilayah dengan kelembaban tinggi.

MONITORING HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN JERUK

Monitoring merupakan salah satu kegiatan penting dan pertama yang harus dilakukan dalam konsep pengendalian hama secara terpadu. Pada kegiatan monitoring akan diperoleh informasi saat serangan suatu OPT, jenis OPT yang ada, dan dinamika serangan OPT terkait dengan fenologi tanaman dan kondisi lingkungan. Terkait dengan status OPT pada suatu wilayah pertanaman jeruk, hasil monitoring dapat memberikan gambaran jenis-jenis OPT yang perlu mendapat perhatian utama (klasifikasi) dikarenakan tingkat serangannya yang tinggi, keberadaan dalam kurun waktu tertentu yang stabil, dan pola sebaran/epidemi yang cepat. Hasil klasifikasi ini selanjutnya dapat pula digunakan untuk memprediksi dan mengevaluasi permasalahan OPT potensial. Tabel 1 di bawah ini memberikan cara teknik monitoring secara praktis.

Tabel 1. Teknik Monitoring Hama dan Penyakit pada Tanaman Jeruk

No

Jenis OPT

Bagian tanaman yang diamati

Saat pengamatan

Alat yang digunakan

Ambang ekonomi

1.

Diaphorina citri

Tunas, daun muda, ketiak daun

Fase tunas, daun muda, daun tua

Loupe, yellow trap

1 ekor/kebun

2.

Aphid

Tunas, daun muda

Fase tunas, daun muda

Mata telanjang

5-12 ekor/daun

3.

Ulat peliang daun

Tunas, daun muda

Fase tunas, daun muda

Mata telanjang

0,7 ekor/daun

4.

Tungau

Daun muda, daun tua, buah

Semua fase pertumbuhan

Loupe

10-20 ekor/daun

5.

Thrips

Tunas, bunga, buah muda

Fase tunas, bunga, buah

Loupe, yellow trap

5-10% daun

2-3% buah

6.

Kutu sisik

Tangkai, daun, buah, batang

Semua fase pertumbuhan

Mata telanjang

?

7.

Kutu dompolan

Tangkai buah, buah, daun

Semua fase pertumbuhan

Mata telanjang

50-60 ekor/tanaman dengan luas serangan 10-15%

8.

Prays sp

Bunga, buah muda

Fase bunga, buah

Mata telanjang

?

9.

C. sagitiferella

Buah

Fase buah

Loupe, mata telanjang

4-6 buah/tanaman

10.

Lalat buah

Buah

Fase buah

Loupe, mata telanjang, metil eugenol

?

11.

CVPD

Tunas, daun muda, daun tua, buah

Semua fase pertumbuhan

Indeksing

1 tanaman/kebun

12.

Tristeza

Tunas, daun muda, batang

Fase tunas, daun muda

Indeksing

1 tanaman/kebun

13.

Penyakit kanker

Tunas, daun, buah

Semua fase pertumbuhan

Mata telanjang

?

14.

Penyakit kudis

Daun, buah, tangkai

Semua fase pertumbuhan

Mata telanjang

?

15.

Embun tepung

Tunas, daun muda, buah

Fase tunas, daun muda, buah

Mata telanjang

Luas serangan 10-15%

16.

Diplodia

Cabang dan batang

Saat pera-lihan musim hujan dan kemarau

Mata telanjang

1 tanaman/kebun

17.

Phythophthora sp

Akar

Semua fase pertumbuhan

Mata telanjang

1 tanaman/kebun



Hasil dari kegiatan monitoring ini diharapkan mampu menjawab beberapa hal, yaitu (1) Jenis OPT yang dikatagorikan sebagai OPT utama dan potensial, (2) Saat kritis tanaman dimana OPT tersebut membahayakan, (3) Saat kritis tanaman pada suatu periode waktu tertentu, (4) Keterkaitan kondisi cuaca dalam mendukung perkembangan OPT, (5) Teknik pengendalian yang diperlukan.

STRATEGI PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN JERUK.

Seperti disebutkan di atas bahwa strategi pengendalian OPT jeruk diarahkan pada penerapan paket pengendalian secara terpadu. Di dalam konsep ini penggunaan pestisida bukan merupakan satu-satunya teknologi pengendalian, melainkan sebagai alternatif ketika teknologi lain tidak mampu menekan tingkat serangan OPT. Alternatif teknologi pengendalian selain pestisida harus dioptimalkan sebagai satu kesatuan paket yang kompatibel sehingga penggunaan pestisida dapat dikurangi. Teknologi pengendalian tersebut meliputi pengendalian secara mekanis, hayati, kultur teknis, tanaman resisten, dan manipulasi ekologi kimia.

Pada fase bibit, tanaman jeruk merupakan tanaman yang rentan terhadap serangan OPT. Adanya serangan OPT dengan cepat dapat menurunkan kualitas bibit sehingga tidak disukai oleh konsumen. OPT yang sering menyerang pembibitan jeruk adalah tungau, thrips, kudis, ulat peliang daun, aphid, kutu sisik, dan busuk tunas. Kesemua OPT tersebut secara nyata menyebabkan kualitas bibit menurun. Untuk itu maka strategi pengendalian yang diterapkan adalah melakukan pencegahan serangan OPT dengan tingkat toleransi terhadap OPT rendah. Dengan demikian tumpuan teknologi pengendalian adalah dengan menggunakan pestisida secara selektif dengan interval aplikasi yang tidak terlalu pendek (3-4 minggu sekali).
Pada fase tanaman dewasa, teknologi pengendalian yang diterapkan lebih diarahkan pada teknologi yang memiliki sifat aman bagi lingkungan dan konsumen. Aplikasi Pestisida dilakukan bila teknologi tersebut tidak mampu menekan perkembangan OPT atau bila intensitas serangan OPT melebihi ambang toleransi. Alternatof teknologi pengendalian tersebut meliputi :

  • Mekanis, diantaranya adalah membunuh hama yang ditemukan secara mekanis, memangkas bagian tanaman terserang, membungkus bagian tanaman yang menjadi target serangan OPT, melakukan sanitasi.
  • Hayati, dengan cara memanfaatkan musuh alami yang efektif. Pada cara ini yang perlu dikuasai adalah teknik perbanyakan massal musuh alami tersebut baik untuk parasitoid/predator maupun entomopatogen.
  • Fisis, melakukan manipulasi lingkungan sehingga kondisi mikroklima tidak cocok bagi perkembangan OPT, misalnya dengan cara mengatur jarak tanam, melakukan pemangkasan, perlakuan solarisasi.
  • Kultur teknis, merupakan pengaturan pola budidaya sehingga kondisi lingkungan pertanaman menjadi kurang cocok bagi perkembangan OPT. Sebagai contoh adalah penerapan sistem tumpangsari, pergiliran tanaman, penataan jarak tanam.
  • Penggunaan tanaman resisten, dilakukan dengan cara menanam varietas yang tahan terhadap serangan OPT tertentu.
  • Manipulasi ekologi kimia, merupakan teknologi untuk mengurangi kecepatan kolonisasi OPT pada lokasi pertanaman. Prinsip kerjasanya adalah dengan mengurangi kemungkinan terjadinya perkawinan sehingga jumlah keturunannya sedikit atau mencegah kehadiran OPT pada areal pertanaman. Teknologi ini untuk sementara baru bisa diterapkan untuk pengendalian hama.



Read More......

DATA STATISTIK MANGGA DI INDONESIA

Areal pertanaman mangga di Indonesia telah mencakup 33 provinsi yang tersebar dari ujung timur sampai ujung barat. Walaupun tersebar hampir merata di wilayah Indonesia, daerah yang benar-benar merupakan sentra produksi mangga hanya terdapat di 3 provinsi yang kesemuanya berada di pulau Jawa. Ketiga provinsi tersebut adalah Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah yang masing-masing secara berturut-turut memiliki kontribusi sebesar 42,60%, 18,73%, dan 13,60% terhadap produksi mangga nasional. Sementara itu kontribusi produksi dari provinsi lainnya masih dibawah 5%. Tiga provinsi luar Jawa yang memberikan kontribusi produksi paling besar adalah Sulawesi Selatan (3,59%), Nusa Tenggara Barat (3,46%), dan Bali (3,16%). Sebaran produksi, luas panen, dan produktivitas mangga pada setiap areal pertanaman menurut provinsi disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas Mangga pada Wilayah Provinsi Tahun 2006.

No.

Provinsi

Produksi

(Ton)

Luas Panen

(Ha)

Produktivitas

(Ton/ha)

1

NAD

32.677

1.637

19,96

2

Sumatera Utara

31.473

2.204

14,28

3

Sumatera Barat

6.280

493

12,74

4

Riau

5.404

578

9,35

5

Jambi

1.892

212

8,92

6

Sumatera Selatan

11.363

1.747

6,50

7

Bengkulu

1.697

182

9,32

8

Lampung

16.971

2.906

5,84

9

Bangka Belitung

1.687

339

4,98

10

Kepulauan Riau

406

26

15,62

11

DKI Jakarta

1.295

107

12,10

12

Jawa Barat

371.800

29.365

12,66

13

Jawa Tengah

206.672

31.846

6,49

14

DI Yogyakarta

29.364

6.378

4,60

15

Jawa Timur

627.911

77.115

8,14

16

Banten

14.405

1.434

10,05

17

Bali

45.759

7.405

6,18

18

Nusa Tenggara Barat

68.869

8.240

8,36

19

Nusa Tenggara Timur

42.066

8.607

4,89

20

Kalimantan Barat

3.066

236

12,99

21

Kalimantan Tengah

4.203

334

12,58

22

Kalimantan Selatan

6.298

922

6,83

23

Kalimantan Timur

3.567

555

6,43

24

Sulawesi Utara

12.123

1.563

7,76

25

Sulawesi Tengah

6.499

485

13,40

26

Sulawesi Selatan

46.874

6.500

7,21

27

Sulawesi Tenggara

6.806

986

6,90

28

Gorontalo

1.452

175

8,30

29

Sulawesi Barat

6.605

1.110

5,95

30

Maluku

3.846

749

5,13

31

Maluku Utara

1.561

871

1,79

32

Papua

350

91

3,85

33

Papua Barat

756

105

7,20


Indonesia

1.621.997

195.503

8,30

Sumber : Statistik Pertanian 2007 (data berasal dari Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura).

Jumlah total produksi mangga yang dihasilkan oleh 33 provinsi tersebut sebesar 1.621.997 ton dengan luas areal sebesar 195.503 ha. Jumlah produksi tersebut meliputi berbagai varietas mangga yang meliputi varietas komersial maupun non komersial. Varietas mangga yang dihasilkan oleh daerah sentra produksi di pulau Jawa adalah Gedong, Indramayu, Arumanis, Manalagi, Golek, Gadung, dan Lalijiwo yang merupakan varietas-varietas komersial (dikenal oleh sebagian besar konsumen). Untuk wilayah luar Jawa, mangga yang dihasilkan adalah varietas Arumanis dan varietas lokal yang masih belum banyak dikenal.
Umumnya pertanaman mangga di Indonesia dalam bentuk kebun rakyat yang dikelola secara subsisten sehingga penerapan teknologi budidaya belum dilakukan secara baik dan benar. Namun di beberapa tempat di wilayah sentra produksi, terdapat beberapa kebun yang dikelola dengan menggunakan teknologi budidaya modern (penerapan SPO). Pengelola perkebunan tersebut adalah perusahaan swasta yang telah berorientasi komersial. Luas perkebunan mangga modern tersebut dapat mencapai 1,5% dari luas total areal produksi nasional dengan varietas dominan adalah Arumanis. Beberapa perkebunan mangga tersebut ada di Jawa Timur, diantaranya adalah (1) PT. Trigatra Rajasa (Situbondo) dengan luas 180 ha, (2) PT. Citra Arumanis (Probolinggo) dengan luas 75 ha, (3) PT. Sata Harum (Probolinggo) dengan luas 166 ha, (4) PT. Friga (Pasuruan) dengan luas 50 ha, dan (5) PT. Galasari Gunung Swadaya (Gresik) dengan luas 253 ha.


Read More......

Hubungan Dinamika Populasi Tungau Panonychus citri Mc Gregor (Acarina:Tetranychidae) dengan Kandungan Senyawa Atsiri pada Buah Jeruk Manis dan Jeruk Besar

by M. Istianto

Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Jl. Raya Solok-Aripan Km. 8, PO. BOX 5 Solok Sumatera Barat


ABSTRAK. Panonychus citri adalah salah satu hama jeruk yang secara ekonomis penting di Indonesia. Salah satu kunci sukses untuk mengendalikan populasi P. citri adalah memahami interaksi hama ini dengan inangnya. Senyawa limonen dan linalool telah diketahui mempengaruhi biologi dan kemampuan reproduksi tungau P. citri pada kondisi laboratorium. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kandungan senyawa atsiri kulit jeruk terhadap dinamika populasi P. citri pada kulit buah jeruk di lapang. Penelitian dilakukan pada pertanaman jeruk besar Nambangan di di Loka Penelitian Jeruk Tlekung Batu Malang dan pertanaman jeruk manis Pacitan di Kusuma Agrowisata Batu Malang. Waktu penelitian adalah April sampai September 2004. Pengamatan dilakukan terhadap dinamika populasi P. citri dan kandungan senyawa atsiri dominan pada kulit buah jeruk besar dan jeruk manis. Data yang diperoleh dianalisis dengan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan kandungan senyawa limonen dan linalool mempunyai pengaruh kuat terhadap dinamika populasi P. citri. Pada tanaman jeruk manis, pengaruh senyawa limonen dan linalool memberikan nilai adjusted r square yang tinggi, yaitu 0,943 dengan persamaaan regresi Y= 218,829 - 2,412 X1+ 5,987 X2 (X1=limonen, X2=linalool). Senyawa limonen memberikan efek negatif sedangkan linalool memberikan efek positif terhadap P. citri. Pada tanaman jeruk besar, populasi P. citri rendah dan konstan dengan kandungan limonen tinggi dan kandungan linalool rendah sehingga efek negatif limonen terhadap P. citri lebih dominan. Hasil penelitian ini dapat memberikan alternatif pengembangan teknologi pengendalian tungau P. citri pada tanaman jeruk melalui manipulasi kandungan metabolit sekunder dalam tanaman.

Katakunci: Citrus sinensis; Citrus maxima; Panonychus citri; Dinamika populasi; Senyawa atsiri.


ABSTRACT. Istianto, M. 2007. Relation between population dynamic of Panonychus citri Mc. Gregor (Acarina:Tetranychidae) and volatile compounds content on sweet orange and pumello fruit. Panonychus citri is one of the most economically important citrus pests in Indonesia. One of the key success for managing the population of this pest is understanding the relationship between this mite and its host. Previous study showed that limonen and linalool influenced the biology and reproductive capacity of P. citri. The objectives of this research were to understand relationship between population dynamic of P. citri and fluctuation content of dominant volatile compounds on sweet orange and pumello. The research was conducted on pumello orchard in Loka Penelitian Jeruk Tlekung Batu Malang and sweet orange orchard in Kusuma Agrowisata Batu Malang from April to September 2004. Observation was carried out to the dynamic of P. citri population and the content of dominant volatile compounds of sweet orange and pumello. The data obtained were analyzed with multiple regression. The results showed that limonene and linalool highly influence to population dynamic of P. citri. On sweet orange, the effect of limonene and linalool indicated high adjusted r square value of 0.943 with regression equation Y= 218,829 - 2,412 X1+ 5,987 X2 (X1=limonen, X2=linalool). Limonene showed negative effect while linalool positively effect to P. citri population. Population of P. citri was lower and steady on pumello with higher content of limonene and lower content of linalool, so that negative effects of limonene to P. citri were more dominant. These results will give an alternative technologies to control P. citri population by manipulating secondary metabolite content inside plant.
Keywords: Citrus sinensis; Citrus maxima; Panonychus citri; Population dynamic; Volatile compounds.

Read More......

Sebuah konsep alternatif pengendalian hama yang bersifat ramah lingkungan

Oleh : Dr.Ir. Mizu Istianto, MT

Alternatif teknologi pengendalian hama selain pestisida sangat diperlukan oleh petani. Tuntutan ini mengikuti perkembangan permintaan pasar yang mulai mempertimbangkan keamanan produk bagi konsumen dan kesadaran untuk mengurangi kerusakan lingkungan. Teknologi pengendalian yang ramah lingkungan menjadi salah satu prioritas kebutuhan untuk menghasilkan produk.

Permasalahan hama merupakan salah satu kendala dalam usaha meningkatkan produksi tanaman baik secara kualitas maupun kuantitas. Konsekuensi masalah hama ini memang harus diterima sebagai akibat diterapkannya pola budidaya secara tunggal (monocropping), yang berorientasi pada peningkatan produksi, sehingga menyebabkan terjadinya penyederhanaan ekosistem. Akibatnya bila terjadi sedikit gangguan maka keseimbangan ekosistem akan mudah terganggu. Proses terjadinya peledakan hama juga merupakan akibat dari terganggunya keseimbangan ekosistem tersebut.

Untuk mengatasi masalah hama ini telah dilakukan usaha pengendalian oleh petani. Sampai saat ini upaya pengendalian populasi hama pada berbagai tanaman masih bertumpu pada penggunaan pestisida karena aplikasi pestisida cukup mudah dan hasilnya cepat diketahui. Selain mempunyai dampak positif, ternyata aplikasi pestisida juga menyebabkan permasalahan yang cukup serius, yaitu munculnya kasus resistensi hama, pencemaran lingkungan, efek residu dan berkurangnya keanekaragaman hayati. Akibat adanya dampak negatif tersebut maka saat ini diperlukan suatu alternatif teknologi pengendalian hama yang mempunyai ciri efektif, tidak menimbulkan efek residu, ramah terhadap lingkungan, dan mempertimbangkan keanekaragaman hayati.

Berdasarkan ciri-ciri tersebut, maka salah satu alternatif pengendalian yang memiliki peluang untuk diterapkan dan masih belum banyak digali potensinya adalah memanipulasi senyawa kimia yang berperan dalam komunikasi serangga hama dengan tanaman inangnya. Salah satu senyawa kimia yang berperan dalam proses komunikasi ini merupakan senyawa kimia mudah menguap (atsiri) yang dihasilkan dan dilepas tanaman setiap saat. Dengan melakukan manipulasi keadaan ekologi kimia tanaman di udara tersebut diharapkan akan dapat menurunkan populasi hama dengan cara menghambat kehadiran hama tersebut dalam suatu areal pertanaman budidaya.

Proses Penemuan Tanaman Inang oleh Serangga

Sebelum dijelaskan tentang cara manipulasi senyawa atsiri atau bau yang dilepas tumbuhan, perlu diketahui terlebih dahulu proses penemuan tanaman inang oleh serangga. Pengetahuan tentang tahapan penemuan tanaman inang ini akan mengarahkan pemahaman mengenai peranan senyawa atsiri dalam mengacaukan tahapan proses tersebut dan teknik aplikasinya.

Ada beberapa tahapan perilaku serangga untuk mendapatkan tanaman inangnya, yaitu :

1. Penemuan inang (finding)
2. Pengujian inang (examining)
3. Konsumsi (consuming)

Pada tahap satu tersebut, yaitu penemuan inang, perilaku serangga menuju ke habitat inang atau ke tanaman inang salah satunya dipengaruhi oleh bau yang dikeluarkan oleh tanaman. Bau merupakan senyawa kimia mudah menguap (atsiri) yang dilepas oleh tanaman dan akan menuntun serangga untuk menemukan inangnya. Manipulasi terhadap rangsang bau tersebut akan menghambat penemuan tanaman inang oleh serangga. Dengan demikian peranan senyawa atsiri dalam mengacaukan proses penemuan inang ada pada tahap awal proses tersebut. Adanya senyawa atsiri (bau) yang bersifat menolak atau mengurangi kekuatan daya rangsang bau tanaman inang akan mempengaruhi kecepatan serangga menemukan tanaman inang atau bahkan dapat mengusir serangga tersebut dari areal pertanaman. Sebaliknya, adanya senyawa atsiri atau bau dari tanaman lain yang menarik atau merangsang serangga untuk datang akan mengalihkan perhatian dan kehadiran serangga ke tanaman lain tersebut.

Dalam menyusun strategi manipulasi ekologi kimia tanaman di udara, selain pemahaman tentang proses penemuan tanaman inang oleh hama juga diperlukan pemahaman tentang pelepasan senyawa atsiri (bau) oleh suatu tumbuhan. Pemahaman pada aspek ini akan memperkaya teknik-teknik manipulasi ekologi kimia tanaman dengan tujuan untuk menghambat kehadiran hama pada tanaman budidaya.

Pola Pelepasan Senyawa Atsiri Oleh Tanaman dan Pengaruhnya terhadap Perilaku Serangga

Senyawa atsiri yang dilepas oleh tanaman banyak jenisnya. Hal ini tergantung pada spesies, stadia pertumbuhan, maupun bagian tanaman yang melepas senyawa tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, pelepasan senyawa atsiri oleh tanaman menunjukkan pola yang bervariasi dan kondisi ini berpengaruh pula terhadap kehadiran serangga pada tanaman tersebut. Contoh, senyawa atsiri yang dilepas pada stadia pertumbuhan tanaman Raspberry pada fase generatif, yaitu kuncup bunga, bunga, buah awal, buah muda, buah mendekati masak, dan buah masak menunjukkan perbedaan. Senyawa trans-ocimene yang semula konsentrasinya tinggi pada saat kuncup bunga, mengalami penurunan pada saat buah masak. Sebaliknya beberapa senyawa monoterpen seperti pinena, camphene, mirsena, dan limonen meningkat secara konstan selama periode pemasakan buah. Pada buah masak juga ditandai oleh munculnya senyawa ionone, heksan etil ester, aldehid alifatik, hidrokarbon alifatik, dan alkohol alifatik. Kondisi ini berpengaruh terhadap respon perilaku kumbang selama periode bunga dan perkembangan buah.

Kuantitas senyawa atsiri yang dilepas tanaman selain dipengaruhi oleh faktor dalam tanaman seperti tersebut di atas, juga dipengaruhi oleh faktor luar terutama cahaya. Pelepasan senyawa atsiri oleh Nicotiana sylvestris lebih tinggi pada saat gelap/malam dibanding pada saat terang. Sebaliknya pada apel dan Nicotiana otophora, pelepasan senyawa atsiri lebih tinggi pada saat terang daripada gelap. Peningkatan emisi senyawa atsiri dari N. sylvestris yang terjadi pada malam hari menyebabkan meningkatnya ketertarikan serangga polinator malam.

Adanya hubungan pola pelepasan senyawa atsiri oleh tanaman dengan kehadiran serangga hama pada tanaman telah memberikan gambaran keterkaitan serangga hama dengan munculnya senyawa-senyawa tertentu pada konsentrasi tertentu.

Manipulasi Ekologi Kimia Tanaman di Udara sebagai Upaya Menghambat Kehadiran Populasi Hama pada Tanaman Budidaya

Manipulasi ekologi kimia ini ditujukan untuk mempengaruhi proses penemuan tanaman inang tahap pertama sehingga serangga mengalami kesulitan menemukan tanaman inang tersebut. Manipulasi dilakukan dengan memanfaatkan senyawa atsiri yang dihasilkan oleh tanaman bukan inang atau oleh tanaman inang yang paling disukai sehingga berperan sebagai penolak atau penarik terhadap hama. Teknik pemanfaatan senyawa atsiri ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :

- Pola tanam tumpangsari

Seperti telah diketahui bahwa sistem tumpangsari sering menyebabkan penurunan kepadatan populasi hama dibanding sistem monokultur. Salah satu hipotesis yang dapat menjelaskan mekanisme penyebab menurunnya populasi hama ini, adalah hipotesis konsentrasi sumber (resource concentration hypothesis). Hipotesis ini menyebutkan bahwa peran senyawa kimia mudah menguap (atsiri) yang dilepas dan gangguan visual oleh tanaman bukan inang akan mempengaruhi tingkah laku dan kecepatan kolonisasi serangga pada tanaman inang. Sebagai contoh, tanaman bawang putih yang ditanam diantara tanaman kubis dapat menurunkan populasi Plutella xylostella yang menyerang tanaman kubis tersebut. Hal ini karena senyawa yang dilepas oleh bawang putih tidak sama dengan senyawa yang dilepas tanaman kubis sehingga P. xylostella kurang menyukai habitat tanaman tumpangsari tersebut. Tanaman bawang putih melepas senyawa alil sulfida yang diduga dapat mengurangi daya rangsang senyawa atsiri yang dilepas kubis atau bahkan dapat mengusir hama tersebut.

Secara garis besar mekanisme tanaman penolak sebagai penghambat kehadiran hama adalah secara langsung sebagai penolak dan mengurangi kekuatan rangsang kimia tanaman utama sehingga kurang terdeteksi oleh hama. Dengan demikian syarat tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai penghambat kedatangan hama adalah :

* Bukan tanaman inang dari hama yang dikendalikan
* Banyak melepas senyawa atsiri yang tidak disukai hama
* Tidak berpengaruh negatif terhadap tanaman utama
* Memiliki nilai ekonomis.

Penanaman tanaman perangkap di antara tanaman utama juga mulai diterapkan untuk mengendalikan populasi hama. Mekanisme yang terjadi adalah adanya daya tarik yang lebih kuat dari tanaman perangkap dibanding tanaman utama sehingga hama lebih menyukai berada pada tanaman perangkap tersebut.

Dalam usaha mengoptimalkan keefektifan tanaman sela untuk mengendalikan populasi hama baik sebagai tanaman perangkap maupun tanaman penolak, perlu pula mempertimbangkan pola penempatannya di antara tanaman utama. Hal ini karena kekuatan daya tarik tanaman terhadap kehadiran hama merupakan interaksi dari :

- Jumlah tanaman inang dan kesukaan relatif serangga terhadap tanaman inang tersebut
- Kepadatan dan pengaturan tanaman inang dalam suatu ruang
- Adanya pengaruh dari tanaman bukan inang

Pemasangan senyawa/minyak atsiri

Prinsip dasar teknik ini sama dengan pola tanam tumpangsari. Perbedaannya, pada teknik ini tidak perlu menanam tanaman sela di antara tanaman utama, melainkan hanya memasang senyawa atsiri, baik sintetis maupun hasil ekstraksi alami (minyak atsiri), di tempat-tempat tertentu pada areal tanaman budidaya. Sampai saat ini senyawa atsiri yang paling banyak digunakan adalah metil eugenol sebagai perangkap hama lalat buah jantan. Untuk senyawa lain masih belum banyak diteliti dan dimanfaatkan.

Beberapa penelitian dasar untuk mengetahui hubungan senyawa atsiri tertentu dengan respon perilaku serangga telah dilakukan dengan tujuan nantinya akan diperoleh senyawa-senyawa atsiri yang dipastikan mempunyai pengaruh kuat terhadap perilaku serangga/hama sehingga dapat digunakan untuk pengendalian dalam skala luas. Diantara penelitian tersebut adalah ditemukannya senyawa 1,8-cineole yang merupakan senyawa penarik bagi hama pisang, yaitu kumbang Cosmopolites sordidus. Tim hama Balai Peneltian Tanaman Buah (Balitbu) juga mulai melacak senyawa penarik/penolak bagi lalat buah betina sehingga nantinya akan ditemukan jenis senyawa yang dapat digunakan untuk mengendalikan populasi lalat buah betina di lapangan. Sampai saat ini sudah ditemukan tanda-tanda beberapa ekstrak minyak atsiri tanaman tertentu memiliki potensi sebagai penolak lalat buah betina dalam skala uji laboratorium.

Pemasangan senyawa/minyak atsiri hendaknya mempertimbangkan informasi tentang pola emisi senyawa atsiri tanaman budidaya dihubungkan dengan kehadiran hama. Dengan diketahui jenis senyawa yang dilepas tanaman maka dapat ditentukan ekstrak minyak/senyawa atsiri yang akan dipasang. Prinsip yang perlu diperhatikan untuk senyawa penolak adalah jenis senyawa atsiri yang dipasang hendaknya berbeda dengan jenis senyawa yang dilepas tanaman budidaya sehingga dapat mengacaukan proses penemuan tanaman inang oleh hama. Untuk senyawa perangkap, jenis senyawa/minyak atsiri yang dipasang mengandung senyawa yang paling disukai hama. Hal ini dapat diketahui melalui penelitian baik skala laboratorium maupun lapangan.

Selain untuk mengendalikan hama yang menyerang pertanaman, senyawa atsiri juga telah diuji untuk mengendalikan hama gudang. Senyawa phenol thymol dan carvacrol yang berasal dari tanaman Thymus serpyllum serta terpinen-4-ol yang berasal dari Origanum majorama dapat digunakan sebagai fumigan uintuk hama kumbang kedelai Acanthoscelides obtectus. Eugenol yang berasal dari bunga cengkeh efektif terhadap hama Tribolium castaneum, Sitophilus zeamais, dan Prostephanus truncatus. Dengan demikian senyawa-senyawa atsiri ini nantinya diharapkan dapat digunakan untuk menggantikan bahan fumigasi kimia yang telah diaplikasikan selama ini di gudang-gudang penyimpanan. Penelitian dalam skala komersial perlu dilakukan untuk membuktikan efektifitas teknologi ini.

Tanaman resisten berdasarkan senyawa atsiri yang dilepas

Manipulasi ekologi kimia dapat pula dilakukan dengan mengubah jenis senyawa yang dilepas oleh tanaman budidaya sehingga tanaman tersebut kurang disukai hama. Perbedaan serangan hama C. sordidus pada tanaman pisang yang peka dan tahan disebabkan oleh perbedaan senyawa atsiri yang dilepas. Pada tanaman pisang yang peka mengeluarkan senyawa 1,8-cineole yang disukai oleh hama C. sordidus. Sebaliknya, pada tanaman pisang yang tahan mengeluarkan senyawa  phellandrene yang tidak menunjukkan daya penarik bagi hama tersebut. Perbedaan antara varietas tahan dan peka pada tanaman maple terhadap hama kumbang jepang dibedakan pula oleh senyawa yang dilepas. Varietas peka melepaskan sejumlah senyawa ester, seperti linalool dan farnesen, yang mempunyai bau seperti buah sehingga menarik hama tersebut untuk datang. Sebaliknya varietas tahan melepaskan senyawa dari kelompok terpene hidrokarbon, seperti pinena, sabinena, dan limonen, yang tidak disukai hama tersebut sehingga membuat hama menjauhi pertanaman maple.

Berdasarkan hasil penelitian dan penerapan lapangan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa senyawa/minyak atsiri mempunyai potensi yang baik sebagai alternatif teknik pengendalian yang ramah lingkungan. Kegiatan penelitian identifikasi senyawa atsiri yang dihasilkan oleh berbagai tanaman dan hubungannya dengan respon serangga masih perlu dilakukan, sehingga dapat mendukung pemanfaatan berbagai jenis senyawa/minyak atsiri dalam mengendalikan populasi hama.

Read More......

Pendahuluan

Lalat buah merupakan salah satu hama utama yang menyerang tanaman buah, diantaranya adalah lalat buah pada tanaman markisa. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa jenis lalat buah yang menyerang tanaman markisa tersebut adalah Bactocera tau Conquilet. Walaupun belum ada informasi pasti tentang kerugian yang ditimbulkannya, namun berdasarkan hasil survey tingkat kerusakan akibat serangan lalat buah ini diperkirakan mencapai 30-40%.

Usaha pengendalian terhadap populasi lalat buah B. tau belum dilakukan karena para petani markisa belum mendapat informasi tentang lalat buah ini maupun teknologi pengendalian yang bisa diterapkan Tersedianya teknologi pengendalian terhadap lalat buah B. tau diharapkan dapat membantu mengendalikan populasi lalat buah ini yang selanjutnya dapat mengurangi tingkat kerusakan buah markisa.
Lalat buah yang menyebabkan awal kerusakan pada buah adalah lalat betina. Hal ini karena lalat betina menyuntikkan ovipositornya pada kulit buah untuk meletakkan telur. Selanjutnya ulat (belatung) yang keluar dari telur makan dan berkembang dalam daging buah sehingga menyebabkan buah busuk. Ulat yang telah mencapai instar terakhir akan menjatuhkan diri ke tanah untuk menjadi kepompong dan selanjutnya muncul sebagai lalat dewasa. Dalam siklus hidup lalat buah, umur telur antara 1-2 hari, umur larva 11-15 hari, umur kepompong 10 hari, dan umur dewasa 15-18 hari. Dewasa betina mulai meletakkan telur sekitar 8 hari setelah muncul dari kepompong.

Teknik pengendalian lalat buah B. tau.

Ada beberapa teknik pengendalian yang bisa diterapkan, yaitu :

1. Sanitasi kebun

Tujuan teknik ini adalah memutus siklus hidup lalat buah. Buah yang terserang, baik yang masih di pohon maupun jatuh ke tanah, dikumpulkan dan dibenamkan dalam tanah dengan kedalaman 50 cm. Selain itu gulma tempat berkumpulnya lalat buah juga dihilangkan (eradikasi). Gulma tersebut adalah Biden pilosa dan Euphatorium unifolium.

2. Penggunaan bahan penarik lalat buah jantan

Bahan penarik untuk lalat B. tau adalah cue-lure [4-(4-acetxyphenyl)-2-butanone]. Mekanisme kerjanya adalah bahan penarik dipasang dalam botol perangkap yang telah diolesi insektisida. Lalat jantan yang mendatangi bahan penarik dan masuk ke dalam botol akan mati karena tersentuh insektisida. Dengan berkurangnya lalat buah jantan di lapang akan mengurangi kemungkinan terjadinya perkawinan sehingga populasi lalat buah generasi berikutnya akan menurun.

3. Pengendalian secara biologi

Di lapang telah ditemukan beberapa jenis parasitoid yang menyerang lalat buah. Diantaranya terdapat satu jenis parasitoid, Biosteres sp, diketahui memiliki potensi sebagai musuh alami. Selain parasitoid, pemanfaatan hewan unggas, yaitu ayam, dapat dipertimbangkan sebagai pengendalian biologis. Ayam memiliki kebiasaan mencari makanan, seperti cacing, di tanah. Adanya larva instar terakhir dan pupa dari lalat buah di tanah juga akan ikut dimakan oleh ayam.

4. Penggunaan bahan kimia

Penyemprotan dengan insektisida dianjurkan dilakukan jika serangan lalat buah tinggi (diatas batas toleransi). Untuk mencegah penyemprotan dilakukan pada buah, sebaiknya dilakukan monitoring populasi lalat buah pada gulma B. pilosa dan E. unifolium. Bila ditemukan populasi tinggi pada kedua gulma tersebut (walaupun serangan pada buah markisa masih sedikit), sebaiknya penyemprotan dilakukan terhadap gulma tersebut. Dengan demikian aplikasi pestisida tidak mengenai buah sehingga aman bagi konsumen. Dengan menerapkan keempat teknik pengendalian tersebut diharapkan kerusakan buah markisa akibat serangan lalat buah B. tau dapat diminimalkan.

Read More......

Followers