Oleh : Mizu Istianto
PENDAHULUAN
Pengendalian terhadap OPT tersebut harus dilakukan untuk menekan kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan. Strategi pengendalian yang tepat perlu dilakukan baik pada pembibitan maupun tanaman dewasa dengan tujuan untuk menekan tingkat serangan OPT. Komponen pengendalian yang diterapkan perlu mempertimbangkan tingkat keamanan terhadap lingkungan dan konsumen semaksimal mungkin. Untuk itu, strategi pengendalian yang diterapkan harus mempertimbangkan (1) Tingkat bahaya/status OPT (2) hubungan fenologi tanaman dengan dinamika serangan OPT, (2) kondisi cuaca (makro dan mikro), (3) komponen teknologi pengendalian yang diramu dalam suatu paket teknologi secara terpadu, dan (4) kondisi SDM dan sosial budaya. Guna mendukung penerapan pengendalian terhadap OPT jeruk tersebut diperlukan beberapa informasi penting, yaitu (1) pengenalan dan identifikasi OPT, (2) biologi, perilaku, dan ekologi OPT, (3) ambang kendali, (4) teknik monitoring, dan (5) teknik pengendalian.
STATUS ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN JERUK
Organisme pengganggu pada tanaman jeruk dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu :
- Hama, meliputi Diaphorina citri, Aphid (Toxoptera citricidus dan T. aurantii), ulat peliang daun (Phyllocnistis citrella), tungau (Panonychus citri, Tetranychus urticae, Phyllocoptruta oleivera ), Thrips, kutu sisik (Lepidosaphes beckii, Unaspis citri), kutu dompolan (Planococcus citri), penggerek buah (Prays sp, Citripestis sagitiferella), lalat buah, Kepik jeruk berduri (Rhynchocorus paseidoon).
- Penyakit, meliputi CVPD, Tristeza, kanker (Xanthomonas campestris), kudis (Sphaceloma fawcetti), embun tepung (Oidium sp), busuk akar (Phytophthora sp), beldok (Botryodiplodia theobrome), embun jelaga, Greysa.
- Vektor, meliputi D. citri (vektor CVPD), aphid (vektor Tristeza)
MONITORING HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN JERUK
Monitoring merupakan salah satu kegiatan penting dan pertama yang harus dilakukan dalam konsep pengendalian hama secara terpadu. Pada kegiatan monitoring akan diperoleh informasi saat serangan suatu OPT, jenis OPT yang ada, dan dinamika serangan OPT terkait dengan fenologi tanaman dan kondisi lingkungan. Terkait dengan status OPT pada suatu wilayah pertanaman jeruk, hasil monitoring dapat memberikan gambaran jenis-jenis OPT yang perlu mendapat perhatian utama (klasifikasi) dikarenakan tingkat serangannya yang tinggi, keberadaan dalam kurun waktu tertentu yang stabil, dan pola sebaran/epidemi yang cepat. Hasil klasifikasi ini selanjutnya dapat pula digunakan untuk memprediksi dan mengevaluasi permasalahan OPT potensial. Tabel 1 di bawah ini memberikan cara teknik monitoring secara praktis.
Tabel 1. Teknik Monitoring Hama dan Penyakit pada Tanaman Jeruk
| No | Jenis OPT | Bagian tanaman yang diamati | Saat pengamatan | Alat yang digunakan | Ambang ekonomi |
| 1. | Diaphorina citri | Tunas, daun muda, ketiak daun | Fase tunas, daun muda, daun tua | Loupe, yellow trap | 1 ekor/kebun |
| 2. | Aphid | Tunas, daun muda | Fase tunas, daun muda | Mata telanjang | 5-12 ekor/daun |
| 3. | Ulat peliang daun | Tunas, daun muda | Fase tunas, daun muda | Mata telanjang | 0,7 ekor/daun |
| 4. | Tungau | Daun muda, daun tua, buah | Semua fase pertumbuhan | Loupe | 10-20 ekor/daun |
| 5. | Thrips | Tunas, bunga, buah muda | Fase tunas, bunga, buah | Loupe, yellow trap | 5-10% daun 2-3% buah |
| 6. | Kutu sisik | Tangkai, daun, buah, batang | Semua fase pertumbuhan | Mata telanjang | ? |
| 7. | Kutu dompolan | Tangkai buah, buah, daun | Semua fase pertumbuhan | Mata telanjang | 50-60 ekor/tanaman dengan luas serangan 10-15% |
| 8. | Prays sp | Bunga, buah muda | Fase bunga, buah | Mata telanjang | ? |
| 9. | C. sagitiferella | Buah | Fase buah | Loupe, mata telanjang | 4-6 buah/tanaman |
| 10. | Lalat buah | Buah | Fase buah | Loupe, mata telanjang, metil eugenol | ? |
| 11. | CVPD | Tunas, daun muda, daun tua, buah | Semua fase pertumbuhan | Indeksing | 1 tanaman/kebun |
| 12. | Tristeza | Tunas, daun muda, batang | Fase tunas, daun muda | Indeksing | 1 tanaman/kebun |
| 13. | Penyakit kanker | Tunas, daun, buah | Semua fase pertumbuhan | Mata telanjang | ? |
| 14. | Penyakit kudis | Daun, buah, tangkai | Semua fase pertumbuhan | Mata telanjang | ? |
| 15. | Embun tepung | Tunas, daun muda, buah | Fase tunas, daun muda, buah | Mata telanjang | Luas serangan 10-15% |
| 16. | Diplodia | Cabang dan batang | Saat pera-lihan musim hujan dan kemarau | Mata telanjang | 1 tanaman/kebun |
| 17. | Phythophthora sp | Akar | Semua fase pertumbuhan | Mata telanjang | 1 tanaman/kebun |
Pada fase bibit, tanaman jeruk merupakan tanaman yang rentan terhadap serangan OPT. Adanya serangan OPT dengan cepat dapat menurunkan kualitas bibit sehingga tidak disukai oleh konsumen. OPT yang sering menyerang pembibitan jeruk adalah tungau, thrips, kudis, ulat peliang daun, aphid, kutu sisik, dan busuk tunas. Kesemua OPT tersebut secara nyata menyebabkan kualitas bibit menurun. Untuk itu maka strategi pengendalian yang diterapkan adalah melakukan pencegahan serangan OPT dengan tingkat toleransi terhadap OPT rendah. Dengan demikian tumpuan teknologi pengendalian adalah dengan menggunakan pestisida secara selektif dengan interval aplikasi yang tidak terlalu pendek (3-4 minggu sekali).Pada fase tanaman dewasa, teknologi pengendalian yang diterapkan lebih diarahkan pada teknologi yang memiliki sifat aman bagi lingkungan dan konsumen. Aplikasi Pestisida dilakukan bila teknologi tersebut tidak mampu menekan perkembangan OPT atau bila intensitas serangan OPT melebihi ambang toleransi. Alternatof teknologi pengendalian tersebut meliputi :
- Mekanis, diantaranya adalah membunuh hama yang ditemukan secara mekanis, memangkas bagian tanaman terserang, membungkus bagian tanaman yang menjadi target serangan OPT, melakukan sanitasi.
- Hayati, dengan cara memanfaatkan musuh alami yang efektif. Pada cara ini yang perlu dikuasai adalah teknik perbanyakan massal musuh alami tersebut baik untuk parasitoid/predator maupun entomopatogen.
- Fisis, melakukan manipulasi lingkungan sehingga kondisi mikroklima tidak cocok bagi perkembangan OPT, misalnya dengan cara mengatur jarak tanam, melakukan pemangkasan, perlakuan solarisasi.
- Kultur teknis, merupakan pengaturan pola budidaya sehingga kondisi lingkungan pertanaman menjadi kurang cocok bagi perkembangan OPT. Sebagai contoh adalah penerapan sistem tumpangsari, pergiliran tanaman, penataan jarak tanam.
- Penggunaan tanaman resisten, dilakukan dengan cara menanam varietas yang tahan terhadap serangan OPT tertentu.
- Manipulasi ekologi kimia, merupakan teknologi untuk mengurangi kecepatan kolonisasi OPT pada lokasi pertanaman. Prinsip kerjasanya adalah dengan mengurangi kemungkinan terjadinya perkawinan sehingga jumlah keturunannya sedikit atau mencegah kehadiran OPT pada areal pertanaman. Teknologi ini untuk sementara baru bisa diterapkan untuk pengendalian hama.


Print this page



