English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

LINK PARTNER

STATUS ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN JERUK DAN STRATEGI PENGENDALIANNYA

Oleh : Mizu Istianto


PENDAHULUAN


Jeruk merupakan salah satu komoditas buah yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Usaha tani jeruk memberikan prospek yang baik dalam meningkatkan kesejahteraan petani. Dalam proses usahatani jeruk, sebagaimana tanaman lain, juga terdapat beberapa kendala yang mengancam pencapaian potensi produksi, diantaranya adalah adanya serangan hama dan penyakit. Tanaman jeruk dapat diserang oleh hama dan penyakit mulai dari fase pembibitan sampai tanaman berproduksi (dewasa). Dari sisi fenologi tanaman, hama dan penyakit tersebut menyerang tanaman jeruk mulai fase dorman, tunas (flush), bunga, dan buah. Bahkan organisme pengganggu tanaman tersebut (OPT) dapat menyerang hingga pada simpanan.
Pengendalian terhadap OPT tersebut harus dilakukan untuk menekan kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan. Strategi pengendalian yang tepat perlu dilakukan baik pada pembibitan maupun tanaman dewasa dengan tujuan untuk menekan tingkat serangan OPT. Komponen pengendalian yang diterapkan perlu mempertimbangkan tingkat keamanan terhadap lingkungan dan konsumen semaksimal mungkin. Untuk itu, strategi pengendalian yang diterapkan harus mempertimbangkan (1) Tingkat bahaya/status OPT (2) hubungan fenologi tanaman dengan dinamika serangan OPT, (2) kondisi cuaca (makro dan mikro), (3) komponen teknologi pengendalian yang diramu dalam suatu paket teknologi secara terpadu, dan (4) kondisi SDM dan sosial budaya. Guna mendukung penerapan pengendalian terhadap OPT jeruk tersebut diperlukan beberapa informasi penting, yaitu (1) pengenalan dan identifikasi OPT, (2) biologi, perilaku, dan ekologi OPT, (3) ambang kendali, (4) teknik monitoring, dan (5) teknik pengendalian.

STATUS ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN JERUK

Organisme pengganggu pada tanaman jeruk dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu :
  • Hama, meliputi Diaphorina citri, Aphid (Toxoptera citricidus dan T. aurantii), ulat peliang daun (Phyllocnistis citrella), tungau (Panonychus citri, Tetranychus urticae, Phyllocoptruta oleivera ), Thrips, kutu sisik (Lepidosaphes beckii, Unaspis citri), kutu dompolan (Planococcus citri), penggerek buah (Prays sp, Citripestis sagitiferella), lalat buah, Kepik jeruk berduri (Rhynchocorus paseidoon).
  • Penyakit, meliputi CVPD, Tristeza, kanker (Xanthomonas campestris), kudis (Sphaceloma fawcetti), embun tepung (Oidium sp), busuk akar (Phytophthora sp), beldok (Botryodiplodia theobrome), embun jelaga, Greysa.
  • Vektor, meliputi D. citri (vektor CVPD), aphid (vektor Tristeza)
Permasalahan utama, terkait dengan OPT, pada tanaman jeruk yang menjadi perhatian utama adalah serangan penyakit CVPD yang telah menyebabkan hancurnya daerah-daerah sentra produksi. Selain penyakit CVPD, status OPT diberbagai wilayah pertanaman jeruk bervariasi. Kemungkinan beberapa OPT tertentu menjadi masalah utama di wilayah tertentu tetapi tidak menjadi masalah di wilayah lain. Dengan demikian penetapan status OPT tersebut harus dilakukan secara spesifik lokasi/wilayah dan bisa tidak sama antar wilayah/daerah. Namun berdasarkan pola perkembangan yang ada pada akhir-akhir ini, beberapa OPT yang perlu diwaspadai di seluruh areal pertanaman jeruk adalah serangan penggerek buah, tungau, kutu dompolan, Thrips, lalat buah. Walaupun kadang-kadang populasinya masih belum terlalu tinggi, tapi harus dimonitor secara ketat karena bila serangan mencapai tingkat membahayakan akan sulit dikendalikan. Untuk OPT tertentu perlu diwaspadai pada wilayah/areal tertentu yang memiliki karakter spesifik, sebagai contoh Phythophthora sp di lahan pasang surut atau lahan dengan drainase/aerasi buruk, kutu sisik dan jamur greysa untuk wilayah dengan kelembaban tinggi.

MONITORING HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN JERUK

Monitoring merupakan salah satu kegiatan penting dan pertama yang harus dilakukan dalam konsep pengendalian hama secara terpadu. Pada kegiatan monitoring akan diperoleh informasi saat serangan suatu OPT, jenis OPT yang ada, dan dinamika serangan OPT terkait dengan fenologi tanaman dan kondisi lingkungan. Terkait dengan status OPT pada suatu wilayah pertanaman jeruk, hasil monitoring dapat memberikan gambaran jenis-jenis OPT yang perlu mendapat perhatian utama (klasifikasi) dikarenakan tingkat serangannya yang tinggi, keberadaan dalam kurun waktu tertentu yang stabil, dan pola sebaran/epidemi yang cepat. Hasil klasifikasi ini selanjutnya dapat pula digunakan untuk memprediksi dan mengevaluasi permasalahan OPT potensial. Tabel 1 di bawah ini memberikan cara teknik monitoring secara praktis.

Tabel 1. Teknik Monitoring Hama dan Penyakit pada Tanaman Jeruk

No

Jenis OPT

Bagian tanaman yang diamati

Saat pengamatan

Alat yang digunakan

Ambang ekonomi

1.

Diaphorina citri

Tunas, daun muda, ketiak daun

Fase tunas, daun muda, daun tua

Loupe, yellow trap

1 ekor/kebun

2.

Aphid

Tunas, daun muda

Fase tunas, daun muda

Mata telanjang

5-12 ekor/daun

3.

Ulat peliang daun

Tunas, daun muda

Fase tunas, daun muda

Mata telanjang

0,7 ekor/daun

4.

Tungau

Daun muda, daun tua, buah

Semua fase pertumbuhan

Loupe

10-20 ekor/daun

5.

Thrips

Tunas, bunga, buah muda

Fase tunas, bunga, buah

Loupe, yellow trap

5-10% daun

2-3% buah

6.

Kutu sisik

Tangkai, daun, buah, batang

Semua fase pertumbuhan

Mata telanjang

?

7.

Kutu dompolan

Tangkai buah, buah, daun

Semua fase pertumbuhan

Mata telanjang

50-60 ekor/tanaman dengan luas serangan 10-15%

8.

Prays sp

Bunga, buah muda

Fase bunga, buah

Mata telanjang

?

9.

C. sagitiferella

Buah

Fase buah

Loupe, mata telanjang

4-6 buah/tanaman

10.

Lalat buah

Buah

Fase buah

Loupe, mata telanjang, metil eugenol

?

11.

CVPD

Tunas, daun muda, daun tua, buah

Semua fase pertumbuhan

Indeksing

1 tanaman/kebun

12.

Tristeza

Tunas, daun muda, batang

Fase tunas, daun muda

Indeksing

1 tanaman/kebun

13.

Penyakit kanker

Tunas, daun, buah

Semua fase pertumbuhan

Mata telanjang

?

14.

Penyakit kudis

Daun, buah, tangkai

Semua fase pertumbuhan

Mata telanjang

?

15.

Embun tepung

Tunas, daun muda, buah

Fase tunas, daun muda, buah

Mata telanjang

Luas serangan 10-15%

16.

Diplodia

Cabang dan batang

Saat pera-lihan musim hujan dan kemarau

Mata telanjang

1 tanaman/kebun

17.

Phythophthora sp

Akar

Semua fase pertumbuhan

Mata telanjang

1 tanaman/kebun



Hasil dari kegiatan monitoring ini diharapkan mampu menjawab beberapa hal, yaitu (1) Jenis OPT yang dikatagorikan sebagai OPT utama dan potensial, (2) Saat kritis tanaman dimana OPT tersebut membahayakan, (3) Saat kritis tanaman pada suatu periode waktu tertentu, (4) Keterkaitan kondisi cuaca dalam mendukung perkembangan OPT, (5) Teknik pengendalian yang diperlukan.

STRATEGI PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN JERUK.

Seperti disebutkan di atas bahwa strategi pengendalian OPT jeruk diarahkan pada penerapan paket pengendalian secara terpadu. Di dalam konsep ini penggunaan pestisida bukan merupakan satu-satunya teknologi pengendalian, melainkan sebagai alternatif ketika teknologi lain tidak mampu menekan tingkat serangan OPT. Alternatif teknologi pengendalian selain pestisida harus dioptimalkan sebagai satu kesatuan paket yang kompatibel sehingga penggunaan pestisida dapat dikurangi. Teknologi pengendalian tersebut meliputi pengendalian secara mekanis, hayati, kultur teknis, tanaman resisten, dan manipulasi ekologi kimia.

Pada fase bibit, tanaman jeruk merupakan tanaman yang rentan terhadap serangan OPT. Adanya serangan OPT dengan cepat dapat menurunkan kualitas bibit sehingga tidak disukai oleh konsumen. OPT yang sering menyerang pembibitan jeruk adalah tungau, thrips, kudis, ulat peliang daun, aphid, kutu sisik, dan busuk tunas. Kesemua OPT tersebut secara nyata menyebabkan kualitas bibit menurun. Untuk itu maka strategi pengendalian yang diterapkan adalah melakukan pencegahan serangan OPT dengan tingkat toleransi terhadap OPT rendah. Dengan demikian tumpuan teknologi pengendalian adalah dengan menggunakan pestisida secara selektif dengan interval aplikasi yang tidak terlalu pendek (3-4 minggu sekali).
Pada fase tanaman dewasa, teknologi pengendalian yang diterapkan lebih diarahkan pada teknologi yang memiliki sifat aman bagi lingkungan dan konsumen. Aplikasi Pestisida dilakukan bila teknologi tersebut tidak mampu menekan perkembangan OPT atau bila intensitas serangan OPT melebihi ambang toleransi. Alternatof teknologi pengendalian tersebut meliputi :

  • Mekanis, diantaranya adalah membunuh hama yang ditemukan secara mekanis, memangkas bagian tanaman terserang, membungkus bagian tanaman yang menjadi target serangan OPT, melakukan sanitasi.
  • Hayati, dengan cara memanfaatkan musuh alami yang efektif. Pada cara ini yang perlu dikuasai adalah teknik perbanyakan massal musuh alami tersebut baik untuk parasitoid/predator maupun entomopatogen.
  • Fisis, melakukan manipulasi lingkungan sehingga kondisi mikroklima tidak cocok bagi perkembangan OPT, misalnya dengan cara mengatur jarak tanam, melakukan pemangkasan, perlakuan solarisasi.
  • Kultur teknis, merupakan pengaturan pola budidaya sehingga kondisi lingkungan pertanaman menjadi kurang cocok bagi perkembangan OPT. Sebagai contoh adalah penerapan sistem tumpangsari, pergiliran tanaman, penataan jarak tanam.
  • Penggunaan tanaman resisten, dilakukan dengan cara menanam varietas yang tahan terhadap serangan OPT tertentu.
  • Manipulasi ekologi kimia, merupakan teknologi untuk mengurangi kecepatan kolonisasi OPT pada lokasi pertanaman. Prinsip kerjasanya adalah dengan mengurangi kemungkinan terjadinya perkawinan sehingga jumlah keturunannya sedikit atau mencegah kehadiran OPT pada areal pertanaman. Teknologi ini untuk sementara baru bisa diterapkan untuk pengendalian hama.



Read More......

DATA STATISTIK MANGGA DI INDONESIA

Areal pertanaman mangga di Indonesia telah mencakup 33 provinsi yang tersebar dari ujung timur sampai ujung barat. Walaupun tersebar hampir merata di wilayah Indonesia, daerah yang benar-benar merupakan sentra produksi mangga hanya terdapat di 3 provinsi yang kesemuanya berada di pulau Jawa. Ketiga provinsi tersebut adalah Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah yang masing-masing secara berturut-turut memiliki kontribusi sebesar 42,60%, 18,73%, dan 13,60% terhadap produksi mangga nasional. Sementara itu kontribusi produksi dari provinsi lainnya masih dibawah 5%. Tiga provinsi luar Jawa yang memberikan kontribusi produksi paling besar adalah Sulawesi Selatan (3,59%), Nusa Tenggara Barat (3,46%), dan Bali (3,16%). Sebaran produksi, luas panen, dan produktivitas mangga pada setiap areal pertanaman menurut provinsi disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas Mangga pada Wilayah Provinsi Tahun 2006.

No.

Provinsi

Produksi

(Ton)

Luas Panen

(Ha)

Produktivitas

(Ton/ha)

1

NAD

32.677

1.637

19,96

2

Sumatera Utara

31.473

2.204

14,28

3

Sumatera Barat

6.280

493

12,74

4

Riau

5.404

578

9,35

5

Jambi

1.892

212

8,92

6

Sumatera Selatan

11.363

1.747

6,50

7

Bengkulu

1.697

182

9,32

8

Lampung

16.971

2.906

5,84

9

Bangka Belitung

1.687

339

4,98

10

Kepulauan Riau

406

26

15,62

11

DKI Jakarta

1.295

107

12,10

12

Jawa Barat

371.800

29.365

12,66

13

Jawa Tengah

206.672

31.846

6,49

14

DI Yogyakarta

29.364

6.378

4,60

15

Jawa Timur

627.911

77.115

8,14

16

Banten

14.405

1.434

10,05

17

Bali

45.759

7.405

6,18

18

Nusa Tenggara Barat

68.869

8.240

8,36

19

Nusa Tenggara Timur

42.066

8.607

4,89

20

Kalimantan Barat

3.066

236

12,99

21

Kalimantan Tengah

4.203

334

12,58

22

Kalimantan Selatan

6.298

922

6,83

23

Kalimantan Timur

3.567

555

6,43

24

Sulawesi Utara

12.123

1.563

7,76

25

Sulawesi Tengah

6.499

485

13,40

26

Sulawesi Selatan

46.874

6.500

7,21

27

Sulawesi Tenggara

6.806

986

6,90

28

Gorontalo

1.452

175

8,30

29

Sulawesi Barat

6.605

1.110

5,95

30

Maluku

3.846

749

5,13

31

Maluku Utara

1.561

871

1,79

32

Papua

350

91

3,85

33

Papua Barat

756

105

7,20


Indonesia

1.621.997

195.503

8,30

Sumber : Statistik Pertanian 2007 (data berasal dari Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura).

Jumlah total produksi mangga yang dihasilkan oleh 33 provinsi tersebut sebesar 1.621.997 ton dengan luas areal sebesar 195.503 ha. Jumlah produksi tersebut meliputi berbagai varietas mangga yang meliputi varietas komersial maupun non komersial. Varietas mangga yang dihasilkan oleh daerah sentra produksi di pulau Jawa adalah Gedong, Indramayu, Arumanis, Manalagi, Golek, Gadung, dan Lalijiwo yang merupakan varietas-varietas komersial (dikenal oleh sebagian besar konsumen). Untuk wilayah luar Jawa, mangga yang dihasilkan adalah varietas Arumanis dan varietas lokal yang masih belum banyak dikenal.
Umumnya pertanaman mangga di Indonesia dalam bentuk kebun rakyat yang dikelola secara subsisten sehingga penerapan teknologi budidaya belum dilakukan secara baik dan benar. Namun di beberapa tempat di wilayah sentra produksi, terdapat beberapa kebun yang dikelola dengan menggunakan teknologi budidaya modern (penerapan SPO). Pengelola perkebunan tersebut adalah perusahaan swasta yang telah berorientasi komersial. Luas perkebunan mangga modern tersebut dapat mencapai 1,5% dari luas total areal produksi nasional dengan varietas dominan adalah Arumanis. Beberapa perkebunan mangga tersebut ada di Jawa Timur, diantaranya adalah (1) PT. Trigatra Rajasa (Situbondo) dengan luas 180 ha, (2) PT. Citra Arumanis (Probolinggo) dengan luas 75 ha, (3) PT. Sata Harum (Probolinggo) dengan luas 166 ha, (4) PT. Friga (Pasuruan) dengan luas 50 ha, dan (5) PT. Galasari Gunung Swadaya (Gresik) dengan luas 253 ha.


Read More......

Followers